Hadapi Abrasi Melalui Tanam Mangrove

Sekitar 3000 bibit Mangrove (Bakau) ditanam oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terpogram (MIT) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Posko 39, Minggu (23/2/2020). Penanaman tersebut dilaksanakan di Desa Gemulak, Kecamatan Sayung.

Acara tersebut diikuti oleh berbagai kalangan seperti perwakilan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo, Kepolisian Sektor Sayung, Perangkat Desa Gemulak, Lembaga Kesejahteraan Sosial, Karang Taruna, dan Warga Desa Gemulak. Penanaman tersebut dilakukan di tanggul desa, makam, serta tambak yang tersebar di 5 Rukun Warga (RW). Rinciannya sebagai berikut: 1000 bibit di RW 1, 500 bibit di RW 3, 1000 bibit di RW 4, dan 500 bibit di RW 5.

“Penanaman Mangrove ini merupakan salah satu kegiatan positif yang memiliki dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat terutama dalam hal menghadapi abrasi. Selain itu, pohon mangrove ini bisa menjadi amal jariyah bagi yang menanam, terutama mahasiswa KKN yang sudah berupaya mencarikan dan mendatangkan bibit mangrove sebanyak itu” tutur Rikza, perwakilan LP2M dalam sambutannya.

Penanaman mangrove di Desa Gemulak merupakan langkah yang tepat, mengingat 300.000 Ha dari total 415.000 Ha lahan di Desa gemulak merupakan tambak yang rutin terkena rob tiap kali pasang air laut. Selain itu, dampak abrasi sementara ini juga cukup merusak. 10 dari 19 akses jalan di Desa Gemulak telah rusak akibat dampak abrasi.

Menurut Mat Kasan, Sekretaris Desa Gemulak, jika tidak ada pencegahan sejak dini terkait abrasi, bisa saja dalam 5-10 tahun ke depan, sebagian Desa Gemulak akan lenyap terendam air. Beliau menambahkan bahwa dengan rutin menanam mangrove serta memperbaiki tanggul desa, dampak abrasi bisa diminimalisasi sehingga keberlangsungan hidup masyarakat di Desa Gemulak bisa tetap ada dalam jangka waktu beberapa tahun yang akan datang.

(Miskat Muhamad/UIN Walisongo)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan